Widget HTML Atas

Profesi Sebagai Jalan Jihad

 
Bismillahirrahmanirrahim,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka…” (At-Taubah: 111)

Dan sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwasannya Nabi SAW telah bersabda:

“Maukah kalian kuberitahu tentang sebaik-baik orang? Yaitu seseorang yang membawa kendali kudanya Fii Sabilillah. Dan maukah kalian kuberitahu tentang sebaik-baik orang kedudukannya sesudahnya? Yaitu seseorang yang berulah dengan membawa gembalaan atau ghanimahnya, ia konsentrasi mendirikan shalat, membayar zakat, dan beribadah kepada Allah dengan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun”.

Sahabat-sahabat dan saudaraku, dari kedangkalan ilmu yang ada dibanding lautan ilmu Allah yang maha luas dan maha dalam. Saya ingin mencoba untuk membagi pengalaman yang mungkin ada hikmah yang dapat kita ambil di dalamnya.

Ayat dan hadits di atas merujuk kepada suatu perbuatan yang apabila kita mampu melakukannya maka jaminan syurga menjadi miliki kita. Apakah itu? Yaitu jihad fi sabilillah. Seseorang yang gugur di medan jihad dengan niatan yang lurus karena Allah maka ia tidak akan menemui hisab dan akan langsung dimasukkan ke jannah yang penuh nikmat. Sungguh beruntung orang tersebut, tidak semua orang mampu melakukan hal itu. Lain halnya di zaman Rasulullah SAW, berperang di jalan Allah adalah suatu kegembiraan tersendiri bagi para Sahabat. Bagaimana tidak, ketika janji kemenangan di depan mata, ketika bayangan jannah dan kenikmatan yang kekal telah menanti kedatangan kita, maka tidak ada pedang atau kapak atau pula tombak yang dibubuhi racun sekalipun yang mampu memupus keinginan untuk meraihnya. Syahid justru menjadi dambaan di dada para sahabat waktu itu.

Nah bagaimana dengan kita? Saudara-saudara kita yang berada di Palestina, Irak, Afghanistan, Pakistan dan lain-lainnya mungkin dapat mengecap kesyahidan seperti yang dialami para sahabat, karena peperangan terang-terangan selalu mereka alami hampir setiap hari sehingga bagi mereka yang menginginkan kesyahidan di jalan Allah dapat meraihnya dengan mudah. Lalu apakah kita yang notabene berada di wilayah/negara yang aman dari peperangan tidak memiliki kesempatan untuk syahid? Rasulullah pernah bersabda pula bahwa seseorang yang memiliki keinginan untuk syahid sedangkan ia meninggal di atas tempat tidurnya, maka Allah menyampaikan keinginannya tersebut.

Lalu apa inti sari yang bisa kita ambil dari hal-hal tersebut. Misalkan , sedangkan Anda mungkin seorang karyawan, manajer, pemilik sebuah badan usaha, guru, mahasiswa ataupun pelajar. Entah sadar atau tidak bahwa profesi dan tempat di mana kita berada adalah sebuah medan jihad yang juga memiliki nilai yang sangat mulia apabila kita memanfaatkannya untuk meraih pahala demi pahala. Untuk memperoleh hal tersebut memang tidak mudah, diperlukan beberapa kunci yang dalam hal ini saya mencoba untuk mengklasifikasikannya menjadi; Sabar, Ikhlas, Ihsan dan Istiqomah (SI3).

Kita mulai dari yang pertama; sabar. Dalam tulisan yang lalu saya sempat menceritakan kisah seorang teman yang meng-sms saya. Intinya untuk dapat keluar dari sebuah masalah diperlukan sebuah kesabaran, sabar dalam menjalani proses kehidupan, sabar dalam berupaya, dan sabar dalam menanti hasil. Bagi seorang pendidik atau juru dakwah, kesabaran menjadi kunci untuk meraih cita-cita atau tujuan dari dakwah yang diembannya. Saya teringat sebuah lagu dari Tufail la-Ghifari yang berjudul “metamorfosis”, di semua baitnya ia mengajak kita untuk bersabar dan tegar dalam proses hidup dan dakwah. Salah satu bait syairnya berbunyi:

menjadi kupu-kupulah meski itu juga tak mudah/sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini/ia harus lalui semedi yang panjang tanpa rasa bosan/dan belajar lebih banyak berdiam untuk menunggu waktu yang tepat untuk keindahan

yah kita bisa lihat maksud yang terkandung dalam syair itu yang tak lain adalah kesabaran. Kesabaran untuk melalui proses, kesabaran untuk menjalani ketentuan yang telah ditetapkan kepada kita. Dan hasilnya adalah suatu keindahan, kebahagiaan dan kemenangan. Insya Allah. Dalam hal ini kita bisa belajar dari kesabaran yang dimiliki oleh saudara-saudara kita di Palestina (semoga Allah melindungi mereka).

Kedua, ikhlas. Ikhlas juga sangat penting perananya, karena kita tahu bahwa dalam setiap perjuangan pasti ada pengorbanan, baik pengorbanan meteri, tenaga, pemikiran bahkan perasaan. Namun belum tentu hasil yang kita dapat sesuai dengan pengorbanan yang kita keluarkan. Di sinilah keikhlasan diperlukan, tanpa itu selain pengorbanan kita sia-sia kita pun tidak memperoleh pahala. Rugi bisa menjadi dua kali lipat.

Ketiga, ikhsan. Dalam hal ini yang saya maksud adalah dalam pengertian profesionalisme. Seseorang yang ikhsan akan selalu merasa diawasi dan memiliki tanggung jawab atas segala apa yang dilakukannya kepada Allah SWT. Oleh karena ia merasa bertanggung jawab kepada Yang Maha Mencipta dan Maha Mengetahui maka ia akan melaksanakan segala pekerjaannya secara professional. Orang yang ikhsan akan bekerja dengan sebaik-baiknya, beban dakwah yang dipikulnya akan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab kepada Allah dengan mengharap pahala dan keridhoan-Nya semata. Jika saja setiap orang melaksanakan tanggung jawabnya secara ikhsan, maka di Indonesia ini tidak akan terjadi berbagai Korupsi, Kolusi dan Nepotisme atau KKN.

Terakhir, istiqomah. Manusia pada dasarnya dalam keadaan yang labil atau mudah sekali terombang-ambing hati dan keimananya. Namun sebagai muslim kita harus tetap berupaya untuk tetap istiqomah menjalankan segala kewajiban, tanggung jawab, dan tugas sebagai juru dakwah. Saya masih ingat pesan atau tausyiah dari murobbi yang mengatakan “sebelum kita menjadi sesuatu, maka jadilah seorang da’i”. Di tengah gejolak dan godaan yang semakin tak terkendali penting bagi kita untuk tetap istiqomah memegang teguh keyakinan dan pandangan yang benar terhadap Islam yang sesungguhnya. Jika kita sendiri tidak istiqomah, lalu bagaimana kita bisa membawa perubahan, perbaikan dan meluruskan kesalahan-kesalahan pemahaman yang merajalela di tengah-tengah umat muslim di Indonesia pada khususnya.

Baiklah ikhwah sekalian, inilah saja yang bisa saya ungkapkan berkaitan dengan tugas yang diembankan kepada saya untuk menceritakan kisah sebuah hikmah terbesar yang dialami dalam hidup. Sabar, Ikhlas, Ikhsan dan Istiqomah adalah sebuah pertahanan terbaik yang amat penting dalam hidup saya. Masa kecil, masa remaja, dan masa-masa menjelang dewasa saya rasakan cukup berat menjalaninya. Utamanya pada saat kita telah memiliki pemahaman bahwa hidup adalah perjuangan, perjuangan untuk perubahan, perbaikan, dan sebagainya. Ketika saya memperoleh tanggung jawab yang cukup berat, ada asa dan kadang rasa tak terpedulikan, penghargaan tak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan. Atau ketika berhadapan dengan orang yang seharusnya membawa kebaikan dan bertanggung jawab atas jabatan yang di amanahkan terhadapnya, justru ia memanfaatkannya untuk meraih keuntungan materil semata. Tak ada rasa takut akan pertanggung jawaban di yaumil akhir, tidak ada rasa peduli terhadap berapa banyak orang yang dirugikan akibat perbuatannya. Sungguh nista dan amat tercela. Padahal pejabat seharusnya adalah pelayan bagi rakyat. Mereka tidak berkaca terhadap Rasulullah, para sahabat dan khulafaurrasyidin.

Namun, hikmah demi hikmah mengalir dibalik setiap detik waktu dan kejadian. Allah maha mengetahui kebutuhan hambanya, dari segala peristiwa itu kita dapat melihat dan menimba ilmu darinya. Semakin berat tanggung jawab dan ujian, justru berarti Allah telah memberi kepercayaan kepada kita untuk memikulnya. Lihatlah bagaimana para Rasul memikul beban yang teramat berat, perjuangan yang mereka lakukan memiliki risiko yang teramat berat sehingga nyawapun menjadi taruhan. Namun jelas sekali bahwa para Rasul adalah manusia-manusia pilihan yang telah Allah anugerahkan kepada mereka kenabian dan janji akan kekekalan dalam kenikmatan di syurga kelak. Berkaca dari itu seyogyanya kita tetap berusaha untuk melaksanakan SIII (sabar, ikhlas, ikhsan dan istiqomah) sebagaiaman telah dicontohkan oleh para Rasul agar kita kelak dapat mencapai kemenangan yang besar sekalipun di dunia ini kita tidak memperoleh apa yang kita cita-citakan.

Wallahu'alam,

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

No comments for "Profesi Sebagai Jalan Jihad"